SMA Negeri 2 Majene

Jalan Chairil Anwar No 3 Lembang Majene, Kelurahan Lembang Kecamatan Banggae Timur

Bersama kami Maju Cerdaskan Anak Bangsa

Wajah Pendidikan Indonesia 2018

Senin, 02 April 2018 ~ Oleh Asmadi, S.Pd ~ Dilihat 51 Kali

 

Oleh: Naila Nurillah Iqbal

Beberapa hari yang lalu, kita baru saja menyaksikan budaya pendidikan yang telah diwariskan dari tahun ke tahun kini masih saja terus berulang. Budaya yang memang tak pernah absen dilakukan para siswa. Tidak tahu pasti sejarah awal mula budaya ini bergerak, namun sampai saat ini masih saja dinikmati oleh para siswa di tingkat SLTP dan SLTA yang telah selesai melaksanakan UNBK. Budaya itu adalah budaya “coret-mencoret”. Sepertinya budaya ini telah mere­kat di kalangan siswa dan dianggap menjadi hal lazim untuk dilakukan. Padahal, budaya ini adalah sesuatu yang sangat tabu.

Berbagai media massa telah menyorot aksi frontal siswa SLTA yang dianggap tidak wajar. Kegiatan ini lazimnya dilakukan sete­lah selesai melaksanakan ujian UNBK yang diadakan selama 3 hari. Sebenarnya sudah dari jauh hari mereka telah menyiapkan serapi mungkin rangkaian kegiatan ini, seperti me­nyiapkan tempat yang bisa dijadikan lapak. Biasanya mereka mengadakannya di lapa­ngan, pantai, bahkan ada yang diadakan di salah satu rumah seorang siswa. Tindakan ini tentu membuat sebagian masyarakat sa­ngat resah khususnya yang peduli mengenai nasib pendidikan di Indonesia. Namun, pihak sekolah tampaknya telah dibutakan hati dan menganggap hal ini sebagai hal yang wajar sehingga tidak mengambil tindakan secara tegas mengenai kegiatan tersebut. Mereka seo­lah telah lepas tanggung jawab kepada para siswa yang baru saja telah selesai melaksanakan ujian UNBK. Padahal kegiatan ini adalah hal yang paling tabu yang telah mencoreng wajah pendidikan di Indonesia.

Sebuah pertanyaan muncul, “Mengapa hal ini bisa terjadi?” Seharusnya para siswa dapat lebih menjaga sikap, harga diri, dan logo OSIS yang tersemat, dan tentunya juga selogan pendidikan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Han­dayani” yang tertanam pada nilai pendidikan itu sendiri. Tapi dengan mudah arti dan makna tersebut tercoreng karena tindakan coret-coretan tersebut. Betapa malunya kita sebagai bangsa Indonesia khususnya para penerus pemimpin Indonesia dengan aksi para siswa yang telah mencoreng serta merta wajah pendidikan Indonesia saat ini.

Tindakan ini termasuk tindakan asusila yang dilakukan para siswa. Sebab, beberapa siswa dengan bebas menunjukkan aksi bru­talnya dengan melakukan konvoi beriring-iringan, menaiki kereta secara ugal-ugalan sam­bil memboncengi cewek lengkap dengan seperangkat pakaian seragam sekolah. Bahkan yang lebih parah saya melihat ada satu aksi sepasang siswa yang jauh dari kata “layak” untuk di adegankan dengan bangga menunjukkan aksinya. Tidak lupa pula hal yang paling penting mereka bawa yaitu cat pilox dan segala keperluan lainnya untuk me­meriahkan kegiatan ini. Mereka sangat antusias sekali dengan kegiatan ini. Setelah se­lesai kegiatan tersebut, hasilnya pun langsung terlihat. Seragam sekolah yang mereka pakai telah penuh oleh warna-warni coretan yang dihiasi dengan tanda tangan satu persatu secara bergiliran. Bahkan seba­gian siswa ada yang mewarnai rambut mereka layaknya preman-preman di lampu merah. Senyuman sumringah pun terlihat dari wajah-wajah mereka yang terlihat sangat bangga dengan memeriahkan kegiatan ini tak lupa pula mengabadikan moment ini dengan memposting di beberapa sosial media.

Anehnya, bukan hanya lelaki saja yang melakukan tindakan ini, namun perempuan pun juga. Mereka tak mau kalah dengan laki-laki dan mengambil bagian dalam hal ini. Mereka seolah tidak memiliki harga diri lagi, karena dengan bebasnya tangan lelaki men­jalar ke bagian tubuh wanita yang akan ditan­da tangani oleh para lelaki satu persatu. Be­berapa dari mereka juga kedapatan meng­gunakan baju seragam yang ketat, sehingga terlihat lekukan bentuk tubuh mereka. Memalukan sekali bagi kita melihat aksi anak bangsa seperti ini, yang lebih parahnya mereka dengan bangga memotret lalu mem­posting di beberapa sosial media dan men­jadikan itu sebagai hal yang paling indah dimasa menjadi anak sekolahan.

Beberapa kasus di atas menunjukkan bah­wa budaya “coret-mencoret” ini bukan lagi hal yang tabu untuk dilakukan, namun sudah menjadi hal yang lumrah. Coba kita membuka kembali dokumen sejarah Indonesia. Para pejuang kemerdekaan Indonesia bertaruh nyawa dalam memerdekakan Indonesia. Namun apa yang didapatkan saat ini? Ya, kini bangsa Indonesia telah merusak kemerdekaan itu sendiri, dengan membuat aksi yang sangat memalukan sekali. Ini bukan lagi mempertahankan kemerdekaan, namun malah merusak kemerdekaan.

Sepertinya, ini merupakan masalah yang sangat serius yang sedang dihadapi oleh Pen­di­dikan Indonesia. Padahal kurikulum 2013 telah memfokuskan pada pendidikan siswa yang berkarakter. Pendidikan moral menjadi hal yang paling penting ditanamkan oleh para peserta didik sejak dini untuk bekal mereka di kehidupan nanti. Moral merupakan kunci sukses seorang siswa dalam menimba ilmu. Tanpa moral manusia seperti binatang, karena binatang tidak memiliki akal. Moral sangat berkaitan dengan akal, akal lah yang berfikir dan memutuskan manusia untuk melakukan setiap tindakan. Jika manusia tidak mengikuti apa kemauan akalnya, maka manusia itu layak seperti binatang. Akal mampu memutuskan yang mana yang baik dan buruk.

Dalam hal ini, kita tidak tahu harus me­nyalahkan siapa pada posisi yang seperti ini, jika menyalahkan pemerintah, itu pasti tidak mungkin. Karena pemerintah sudah meran­cang sebagus mungkin kurikulum pendidikan di Indonesia. Dan jika menya­lahkan guru atau pihak yayasan sekolah, mereka pula yang mengajarkan nilai-nilai moral kepada siswa. Jadi, sebenarnya serba salah dalam menyalahkan budaya yang semakin merusak moral bangsa ini. Tidak usah fokus memi­kirkan siapa yang patut disalahkan, karena memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja dalam masalah yang serius ini, kita butuh dan perlu dukungan dari peme­rintah untuk membuat UU yang ketat dalam pelarangan budidaya budaya coret-mencoret, agar kedepannya bisa mengganti dengan budaya yang mengarah ke arah positif.

Perlu ditekankan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini telah gagal menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Karena telah banyak kasus yang terjadi seputar masalah pendidikan. Kebanyakan kasus menunjukkan bahwa kini siswa telah berani melawan guru, juga ada siswa yang berani menggugat guru, bahkan yang lebih parah hingga membunuh guru. Naudzubillah. Kasus-kasus ini merupakan hasil dari ketidakseriusan pemerintah dalam mengevaluasi setiap kurikulum yang telah diciptakan dan tidak adanya hukum yang ketat di negara yang katanya negara hukum ini.

Jika dikaitkan dengan problem diatas dengan pendidikan, ini menjelaskan bahwa bangsa Indonesia kini telah kehilangan nilai-nilai moral untuk bisa bertahan hidup di masyarakat dan bersaing didunia Interna­sional. Dalam kasus ini, hal yang paling pen­ting menjadi penggerak adalah peme­rintah. Pemerintah harus membuat kebijakan baru atau membuat UU tentang pelarangan budaya coret-mencoret.

Betapa mirisnya bangsa indonesia khususnya pemuda Indo­nesia yang merupakan cikal-bakal menjadi penentu masa depan Indonesia kini telah kehilangan harga diri dan moral. Budaya ini harus mendapatkan perhatian yang intens dari pemerintah dalam meniadakan budaya yang menjadi kewarisan di setiap tahun, sehingga Indonesia memiliki bangsa yang cerdas dan mampu bersaing didunia Inter­nasional. Coba camkan bahwa moral penentu masa depan Anda.

Berita Pengumuman Sekilas-info

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. H. Mahyuddin Laha, M.Si

Para pengunjung situs yang berbahagia, kami ucapkan selamat datang di situs SMAN 2 Majene ini. Bahwasanya kami sadar sepenuhnya dalam…

Selengkapnya

TAUTAN